MAKASSAR — Pelaksanaan tes Computer Assisted Test (CAT) pada jalur layanan unggulan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di sejumlah SMA dan SMK unggulan di Sulawesi Selatan mulai menuai sorotan. Sejumlah orang tua siswa mempertanyakan transparansi sistem, mekanisme penilaian, hingga keterbukaan hasil seleksi kepada peserta.
Di Kota Makassar, terdapat empat SMA Negeri yang membuka jalur layanan unggulan, yakni SMAN 1 Makassar, SMAN 2 Makassar, SMAN 5 Makassar, dan SMAN 17 Makassar, serta SMKN 5 Makassar.
Sorotan muncul karena sistem seleksi berbasis CAT dinilai belum sepenuhnya terbuka kepada masyarakat. Sejumlah peserta mengaku kesulitan memantau perolehan nilai maupun posisi peringkat selama proses seleksi berlangsung.
Koordinator Divisi Hukum dan Pelaporan LSM PERAK Indonesia, Burhan Salewangang, SH, mempertanyakan kredibilitas sistem CAT yang diterapkan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dalam jalur layanan unggulan tersebut.
Menurutnya, jeda pengumuman hasil CAT yang berlangsung hingga hampir sepekan setelah tes dilaksanakan justru menimbulkan tanda tanya di tengah masyarakat.
“Kalau memang sistemnya CAT dan berbasis komputer, seharusnya hasil maupun skor peserta bisa diketahui secara cepat dan transparan. Ini justru jeda pengumumannya terlalu lama sehingga memunculkan berbagai spekulasi publik,” ujar Burhan kepada awak media saat ditemui di Cafe Daun Talas, Jalan Sunu, Makassar, Selasa (26/5/2026).
Ia juga menyoroti tidak adanya tampilan poin maupun peringkat peserta secara terbuka di aplikasi pendaftaran, khususnya bagi siswa yang mengikuti jalur layanan unggulan.
“Kami melihat masyarakat tidak diberikan akses yang jelas untuk mengetahui bagaimana sistem penilaian itu berjalan. Tidak terlihat poin peserta, tidak terlihat ranking secara real time, sehingga publik sulit melakukan pengawasan,” katanya.
Selain itu, Burhan menilai perubahan jadwal pelaksanaan CAT yang terjadi beberapa kali turut memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap sistem seleksi tersebut. Sejumlah peserta disebut mengalami perubahan jadwal mendadak, mulai dari pergantian hari pelaksanaan hingga perubahan sesi ujian.
“Kondisi ini membuat siswa dan orang tua kebingungan. Awalnya dijadwalkan hari tertentu, lalu berubah ke hari berikutnya dengan sesi berbeda. Hal-hal seperti ini sangat sensitif dalam proses seleksi pendidikan karena menyangkut rasa keadilan,” tegasnya.
Burhan juga meminta Dinas Pendidikan Sulsel menjelaskan secara terbuka pihak atau lembaga yang menyusun soal CAT pada jalur layanan unggulan tersebut. Menurutnya, transparansi diperlukan untuk menjaga integritas proses seleksi dan menghindari munculnya dugaan negatif di masyarakat.
“Publik perlu tahu siapa penyusun soal, bagaimana standar pengawasannya, serta bagaimana sistem pengolahan nilainya. Jangan sampai muncul persepsi bahwa sistem ini tidak akuntabel,” ujarnya.
SPMB Sulawesi Selatan tahun ini memang menerapkan sejumlah mekanisme baru dalam penerimaan siswa SMA, termasuk penguatan jalur prestasi dan penggunaan sistem tes akademik di beberapa sekolah unggulan.
Namun di tengah pelaksanaannya, sejumlah orang tua siswa mulai mempertanyakan konsistensi teknis seleksi, terutama terkait perubahan jadwal, keterbukaan nilai, dan mekanisme penentuan peringkat apabila peserta memperoleh nilai yang sama.
Burhan menegaskan proses penerimaan siswa baru seharusnya dijalankan dengan prinsip objektif, transparan, akuntabel, dan bebas dari dugaan intervensi pihak tertentu.
“Pendidikan adalah sektor yang sangat sensitif. Sedikit saja ada ketidakjelasan sistem, maka kepercayaan publik bisa runtuh. Karena itu Disdik Sulsel wajib memberikan penjelasan terbuka agar tidak muncul dugaan-dugaan negatif di masyarakat,” pungkasnya.
Sementara itu, Plt Sekretaris Dinas Pendidikan Sulsel yang juga Ketua Panitia SPMB Sulsel, Mustakim, serta Plt Kabid SMA Disdik Sulsel, Riswan Sawedi, belum memberikan tanggapan saat dikonfirmasi awak media.
(*)



