Zonaluwuraya.com LuTim– Eskalasi gerakan menuntut pembentukan Daerah Otonomi Baru (DOB) Provinsi Luwu Raya kembali memanas.
Hari ini, Senin (5/1/2026), Aliansi Perlawanan Rakyat Luwu Raya dijadwalkan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran yang dipusatkan di Perbatasan Kabupaten Luwu Timur (Lutim) dan Luwu Utara (Lutra), tepatnya di Kecamatan Tanalili.
Berdasarkan seruan aksi yang beredar, massa dijadwalkan mulai bergerak pukul 09.00 WITA hingga tuntutan mereka dipenuhi atau “Menang”.
Pengguna Jalan Trans Sulawesi yang hendak melintas di jalur penghubung Lutra dan Lutim diimbau untuk waspada terhadap potensi kemacetan total.
Aksi hari ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan strategis yang digelar sehari sebelumnya.
Pada Minggu sore, 4 Januari 2026, elemen masyarakat telah menggelar “Konsolidasi Akbar” di Tomoni, Luwu Timur.
Dalam konsolidasi tersebut, tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh agama, dan berbagai elemen masyarakat menyatukan suara untuk mendiskusikan langkah taktis perjuangan dengan tagar #LUWURAYAHARGAMATI.
Aksi di Tanalili pagi ini adalah eksekusi nyata dari hasil pertemuan tersebut.
Gerakan ini tidak hanya dimotori oleh satu kelompok.
Terlihat dari poster seruan aksi, sejumlah logo organisasi besar mahasiswa turut serta, antara lain HMI, PMII, GMNI, LMND, serta asosiasi petani dan pemuda lainnya.
Penanggung Jawab Aksi, Tandi Bali dan Reski Aldiansyah, kembali memimpin gerakan ini. Dalam seruannya, mereka mengajak seluruh elemen, mulai dari pemuda, pelajar, mahasiswa, tani, buruh, hingga nelayan se-Luwu Utara dan Luwu Timur, untuk turun ke jalan menyuarakan satu tuntutan mutlak: “Mekarkan Provinsi Luwu Raya”.
Mengacu pada surat edaran dan sikap jenlap pada aksi-aksi sebelumnya, Tandi Bali menyadari bahwa gerakan ini akan berdampak pada arus lalu lintas.
Pihaknya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat dan pengguna jalan atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul akibat perlambatan arus lalu lintas di sekitar Tanalili.
Ia menegaskan bahwa gangguan ini adalah konsekuensi logis dari penyampaian aspirasi rakyat yang selama ini merasa dianaktirikan.
Aksi ini diklaim sebagai bentuk ekspresi kolektif atas kegelisahan masyarakat terhadap ketidakadilan pembangunan dan mendesak percepatan pemekaran wilayah.
Bagi warga yang memiliki agenda mendesak melintasi perbatasan Lutim-Lutra pagi ini, disarankan untuk mencari jalur alternatif atau menunda perjalanan guna menghindari penumpukan kendaraan di titik aksi. (*)



