Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, mengungkapkan bahwa cakupan kepesertaan JKN saat ini telah mencapai lebih dari 284,11 juta jiwa atau sekitar 98 persen penduduk Indonesia. Menurutnya, capaian tersebut harus diiringi dengan pengelolaan keuangan yang presisi dan berbasis analisis mendalam agar keberlanjutan program tetap terjaga.
Ghufron menilai meningkatnya pemanfaatan layanan kesehatan, perubahan pola penyakit, serta kebutuhan pembiayaan yang terus berkembang menuntut dukungan analisis aktuaria yang kuat. Ia menegaskan bahwa data yang dimiliki BPJS Kesehatan bukan sekadar angka statistik, melainkan sumber pengetahuan strategis dalam merumuskan kebijakan berbasis bukti.
“Pemodelan aktuaria memiliki peran penting dalam memetakan risiko, menghitung kecukupan dana, sekaligus memberikan arah kebijakan guna menjaga ketahanan finansial Program JKN,” ujar Ghufron.
Melalui Lomba Pemodelan Aktuaria, BPJS Kesehatan mendorong agar keilmuan aktuaria di perguruan tinggi terhubung langsung dengan kebutuhan nyata pengelolaan jaminan sosial kesehatan. Ia berharap gagasan dan model yang dihasilkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut untuk memperkuat Dana Jaminan Sosial.
Ghufron juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, dosen pembimbing, dewan juri, serta pemangku kepentingan yang terlibat, antara lain Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Kementerian PPN/Bappenas. Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi penting dalam pengembangan ilmu aktuaria yang relevan dengan kebutuhan jaminan sosial kesehatan nasional.
Sementara itu, Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) Nikodemus Beriman Purba, yang mewakili Ketua DJSN, menilai pemodelan aktuaria sebagai instrumen kunci dalam menghadapi tantangan pengelolaan Program JKN yang bersifat multidimensi. Menurutnya, tantangan JKN tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga menyentuh ranah kebijakan dan keadilan sosial.
Nikodemus menyoroti masih adanya ketidakseimbangan antara besaran iuran dan beban klaim yang tercermin dari rasio yang belum sepenuhnya ideal. Selain itu, meningkatnya prevalensi penyakit katastropik berbiaya tinggi menjadi tantangan serius yang perlu direspons melalui penguatan upaya promotif dan preventif, termasuk pembiasaan pola hidup sehat di masyarakat.
Ia menegaskan bahwa Program JKN tidak dapat dikelola dengan asumsi tunggal, melainkan membutuhkan pemodelan aktuaria multi-skenario untuk mengantisipasi berbagai risiko di masa depan. Hasil kajian dari lomba ini diharapkan dapat menjadi masukan strategis bagi BPJS Kesehatan dalam merumuskan arah kebijakan dan strategi penyelenggaraan JKN ke depan.
Daftar Pemenang Grand Final Lomba Pemodelan Aktuaria BPJS Kesehatan 2025:
Jenjang S1
Juara I: Universitas Gadjah Mada
Juara II: Universitas Katolik Parahyangan
Juara III: Universitas Indonesia
Harapan I: Universitas Indonesia
Harapan II: Institut Teknologi Kalimantan
Jenjang S2
Juara I: Institut Teknologi Bandung
Juara II: Universitas Hasanuddin
Juara III: IPB University
Jenjang S3
Juara I: Universitas Gadjah Mada
Juara II: Universitas Gadjah Mada
(*)




