Sejarah Singkat SMSI
SMSI didirikan di Banten pada 7 Maret 2017 oleh sejumlah tokoh pers nasional, di antaranya mantan Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari, mantan Sekretaris Jenderal PWI Pusat Mirza Zulhadi, serta mantan Ketua Bidang Organisasi PWI Pusat Firdaus.
Hingga kini, SMSI Pusat masih diketuai oleh Firdaus yang menjabat sejak terpilih sebagai Ketua Umum pada Kongres Pertama SMSI di Kantor PWI Pusat, 20 Desember 2019.
Pengesahan oleh Dewan Pers
SMSI resmi menjadi konstituen Dewan Pers setelah diterbitkannya Surat Keputusan Dewan Pers Nomor 22/SK-DP/V/2020 tentang hasil verifikasi organisasi perusahaan pers SMSI. SK tersebut ditandatangani Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh pada 29 Mei 2020, berdasarkan keputusan sidang pleno Dewan Pers tanggal 22 Mei 2020 serta hasil verifikasi 29 Januari 2020.
Dinobatkan sebagai Organisasi Pers Terbesar di Dunia
Sejak berdiri, SMSI telah memperoleh dua penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Salah satu penghargaan penting adalah penobatan SMSI sebagai Organisasi Pers dengan Jumlah Anggota Media Siber Terbesar di Dunia.
Piagam penghargaan diserahkan Pendiri MURI, Jaya Suprana, kepada Ketua Umum SMSI Firdaus di Galeri MURI, Mall of Indonesia (MOI), Jakarta, Jumat 18 Maret 2022.
Per 31 Desember 2021, jumlah anggota SMSI mencapai 1.761 perusahaan pers siber yang tersebar di 34 provinsi. Tim MURI menilai angka tersebut sebagai yang terbesar di dunia. Kini jumlah anggota SMSI terus bertambah dan diperkirakan sudah mencapai sekitar 2.000 perusahaan media siber.
“Organisasi SMSI tengah meluas jaringannya hingga tingkat kota dan kabupaten. Sekarang ini sedang berjalan,” ujar Firdaus.
Rekor MURI Sebelumnya
Pada 28 Februari 2020, SMSI juga mencatat rekor MURI atas kecepatan dan jangkauan publikasi opini berjudul ‘Mendambakan Keadilan Sosial’. Dalam waktu hanya 7,5 jam, opini tersebut dimuat oleh 571 media anggota SMSI dari Sabang sampai Merauke.
Catatan strategis ini merupakan bagian dari roadmap SMSI lima tahun sejak pendiriannya. “Kami bersama teman-teman bangkit dari keterpurukan media akibat disrupsi teknologi. Kami melangkah mengatasi persoalan, dan kini masuk ke dunia terbaru yaitu metaverse,” kata Firdaus.
(Dikutip dari Berbagai Sumber)



