Ketua Panitia, Supardi, menyampaikan bahwa kompetisi tahun ini diikuti sebanyak 10 tim – lima tim pada kategori U-10 dan lima tim di kelompok usia U-12. Total sekitar 200 pemain muda unjuk kemampuan dalam festival pembinaan tersebut.
“Yang kami tekankan bukan sekadar menang atau kalah, tetapi bagaimana anak-anak merasakan atmosfer kompetisi sejak awal,” tutur Supardi.
Menuju Pembibitan Berjenjang hingga Tingkat Nasional
Ketua FORSGI Sulawesi Selatan, Jubliadi Patangke, menjelaskan bahwa festival ini merupakan bagian dari pola pembinaan berlapis yang telah bergulir sejak 2021. Setelah tahap kabupaten dan kota, pemain terpilih akan disaring kembali untuk tampil di festival tingkat provinsi, lalu menuju kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Kemenpora di Jakarta.
“Ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga. Sistem pembinaan kami berjenjang, dari daerah hingga nasional. FORSGI juga mendapat dukungan langsung dari Kemenpora,” ujar Jubliadi.
Menurutnya, pembinaan usia 10–12 tahun menjadi pijakan penting dalam pengembangan kualitas pemain, mengingat kelompok usia tersebut sering terlewat dalam sistem pelatihan sekolah sepak bola.
“Yang dinilai bukan hanya skor akhir, tetapi teknik bermain dan karakter. Talent scout dari Jakarta juga akan memantau perkembangan para pemain,” jelasnya.
Bakat Muda Sulsel Kian Terlihat, Klub Liga 1 Mulai Melirik
Jubliadi mengungkapkan bahwa pembinaan pemain usia dini di Sulawesi Selatan sudah menunjukkan hasil yang membanggakan. Pada tahun 2022, dua pemain Sulsel tampil dalam festival nasional di Jakarta, yang kemudian mengantarkan enam pemain muda direkrut oleh klub profesional.
“Tiga pemain direkrut Persija, dua bergabung ke Borneo FC, dan satu ke PSM Makassar. Ini menjadi bukti pembinaan dini dapat menghasilkan talenta berkualitas,” tegasnya.
Untuk wilayah Luwu Raya sendiri, festival ini telah digelar dua tahun berturut-turut.
“Tahun lalu di Lamasi, tahun ini di Kamanre. Kami ingin masyarakat semakin terlibat dan mendukung pembinaan usia dini,” imbuhnya.
Jubliadi berharap kolaborasi FORSGI, KONI, serta para pemerhati sepak bola dapat terus ditingkatkan sehingga lebih banyak pemain potensial muncul dari daerah.
“Festival seperti ini merupakan pondasi untuk melahirkan bintang masa depan,” tambahnya.
KONI Luwu Siap Mengawal Pembinaan Atlet Muda
Ketua KONI Luwu, Suryanto, menyambut baik penyelenggaraan festival tersebut dan menilai kegiatan seperti ini sangat strategis untuk memperkuat pembacaan potensi atlet sejak usia pertumbuhan.
“Kami tentu mendukung penuh. Pembinaan dari kecil sangat menentukan masa depan atlet,” ucapnya.
Suryanto menyebut bahwa jumlah atlet muda di Luwu masih perlu diperbanyak sehingga kegiatan pembibitan harus lebih rutin dilaksanakan.
“Semakin sering kompetisi digelar, semakin banyak bibit unggul yang terlihat. Kami berharap event seperti ini bisa berjalan setiap tahun,” tutupnya.
(*)






