Luwu | — Pemerintah Kecamatan Ponrang Selatan menggelar kegiatan tudang sipulung di Pasar Tradisional Desa Bakti, Sabtu (2/5/2026).
Forum ini membahas percepatan musim tanam sekaligus langkah antisipasi menghadapi potensi kemarau.
Kegiatan yang mengusung tema “Menyatukan Hati, Mempererat Silaturahmi, Melestarikan Warisan Budaya”
Yang dihadiri oleh Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Luwu Ruslan, S.T., M.PA, Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Luwu Andi Hidayat, Kapolsek Ponrang Edi Syamsuri, perwakilan Danramil melalui Babinsa Sertu Muh. Darwis, Camat Ponrang Selatan Muhammad Kasim, S.E., Koordinator SDA PUPR Luwu Suyani, Koordinator SPOP luwu Yusri S.p, penyuluh pertanian, kepala desa/lurah, tokoh masyarakat, serta kelompok tani.
Koordinator Penyuluh Pertanian Ponrang Selatan, Hasri, menyampaikan bahwa kebutuhan air untuk mendukung percepatan olah lahan dan tanam mulai dioptimalkan. Ia menjelaskan, pihak pengairan (PSDA) Ranting Padang Sappa telah membuka pintu air sejak 20 April 2026.
“Petani dapat menerapkan sistem irigasi berselang atau basah-kering. Selain itu, pemupukan berimbang dianjurkan dengan dosis 250 kilogram urea per hektare dan 300 kilogram NPK Phonska per hektare, yang diberikan dua hingga tiga kali dalam satu musim tanam,” ujarnya.
Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Luwu, Andi Hidayat, menekankan pentingnya kepatuhan terhadap jadwal tanam yang telah ditetapkan.
“Petani didorong melakukan penanaman sesuai jadwal, pengendalian hama terutama tikus secara serentak, penggunaan air secara efisien, serta penggunaan benih sesuai anjuran penyuluh,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Kabupaten Luwu, Yusri, S.P, mengungkapkan bahwa berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau diperkirakan mulai Juli dan mencapai puncak pada September 2026.
“Kondisi ini berpotensi menurunkan curah hujan dan memicu kekeringan di beberapa wilayah. Diperlukan langkah antisipatif melalui pengaturan jadwal tanam, penggunaan varietas unggul tahan cekaman, serta pengendalian dini terhadap hama dan penyakit tanaman,” jelasnya.
Ia menambahkan, sinergi antara petani, POPT, penyuluh, dan instansi terkait menjadi kunci keberhasilan musim tanam di tengah potensi gangguan iklim.
Di sisi lain, Kepala Dinas Perdagangan Luwu, Ruslan, S.T., M.PA, menyampaikan rencana pembenahan fasilitas Pasar Tradisional Desa Bakti, sekaligus menyoroti praktik perdagangan yang dinilai merugikan petani.
Ia menyinggung keberadaan tengkulak dalam aktivitas jual beli dan mengimbau agar penggunaan timbangan gantung (dacing) tidak lagi digunakan.
“Seluruh transaksi penimbangan diwajibkan menggunakan timbangan duduk demi menjaga akurasi,” tegasnya.
Ruslan juga menyoroti keluhan masyarakat terkait praktik tengkulak yang menyebabkan potongan berat cukup besar, bahkan hingga mencapai 5 kilogram.
Selain itu, menanggapi keluhan pedagang, ia menegaskan agar pedagang menggunakan dana pribadi dalam transaksi, yang nantinya akan diganti oleh pihak dinas sesuai mekanisme yang berlaku.
“Fasilitas yang belum tersedia seperti toilet dan kran air untuk setiap los akan segera dibenahi guna menunjang aktivitas pedagang dan masyarakat,” tambahnya.
Kegiatan tudang sipulung ini menjadi forum koordinasi lintas sektor untuk memperkuat kesiapan petani menghadapi musim tanam dan potensi tantangan cuaca, sekaligus mendorong terciptanya sistem perdagangan yang lebih adil dan transparan.



