Zonaluwuraya.com | LUWU – Hamparan sawah seluas kurang lebih 70 hektare di Loppe, Lingkungan Lumika, Kelurahan Noling, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, terus menghadapi krisis air yang berdampak pada hasil pertanian. Persoalan ini tidak hanya terjadi saat musim kemarau, tetapi hampir setiap musim tanam, sehingga produksi padi kerap mengalami penurunan hingga sekitar 50 persen, bahkan berpotensi gagal panen ketika musim kemarau tiba.
Kawasan persawahan tersebut merupakan lahan cetak baru yang dibangun pada Tahun Anggaran 2025. Namun, hingga kini para petani masih menghadapi persoalan utama berupa minimnya ketersediaan sumber air untuk mengairi areal persawahan.
Berdasarkan keterangan petani di lokasi, hamparan sawah tersebut tidak memiliki sumber mata air alami. Selama ini petani hanya mengandalkan aliran Sungai Noling yang debit airnya terus berkurang saat musim kemarau dan bahkan dapat mengering.
Salah seorang petani, Ippink, mengatakan apabila air hendak dialirkan dari Sungai Noling, diperlukan pompa dengan jarak sekitar 800 meter. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan biaya yang cukup besar, baik untuk pembangunan jaringan maupun biaya operasional.
"Ini lahan cetak baru tahun anggaran 2025. Sepanjang hamparan sawah sekitar 70 hektare ini sampai ke arah kaki gunung tidak ada sumber air. Satu-satunya yang bisa dimanfaatkan adalah Sungai Noling, tetapi jaraknya sekitar 800 meter jika dipompa. Tentu membutuhkan biaya yang besar," ujar Ippink, Rabu,(22/7/2026).
Menurutnya, pembangunan sumur bor merupakan solusi yang paling realistis untuk memenuhi kebutuhan air di kawasan tersebut. Selain lokasi persawahan berada tidak jauh dari jalan, jaringan listrik juga telah tersedia sehingga dapat menunjang operasional pompa air.
"Kalau ada bantuan sumur bor tentu sangat membantu petani. Lokasinya dekat dengan jalan dan sudah ada tiang listrik, sehingga tinggal dipasang pompa untuk mengairi sawah. Dengan begitu lahan tetap bisa ditanami dan petani tidak mengalami gagal panen," katanya.
Ippink juga mengungkapkan bahwa sebenarnya terdapat rencana pengembangan jaringan irigasi dari Tanabolong, Desa Padang Tuju, Kecamatan Bua Ponrang. Menurutnya, saluran tersebut hanya perlu diperpanjang sekitar 4 kilometer agar dapat menjangkau kawasan persawahan di Loppe. Usulan itu, kata dia, telah disampaikan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan.
"Sebenarnya sudah ada irigasi dari Tanabolong, Desa Padang Tuju. Tinggal dilanjutkan saja sekitar 4.000 meter menuju kawasan sawah ini. Usulan itu sudah disampaikan saat Musrenbang kecamatan. Kemungkinan pembiayaannya bisa melalui APBN. Selain itu, kami juga mengetahui ada program bantuan sumur bor dari Kementerian Pertanian. Tinggal bagaimana ada kemauan pemerintah untuk mengurus dan memperjuangkannya," ungkapnya.
Ia berharap pemerintah tidak menunggu hingga petani mengalami gagal panen sebelum mengambil langkah penanganan. Menurutnya, persoalan kekurangan air di kawasan tersebut telah berlangsung selama bertahun-tahun dan hampir selalu terjadi pada setiap musim tanam.
"Harapan kami, kebutuhan air ini diantisipasi sejak sekarang. Jangan sampai petani sudah gagal panen baru semua menyesal. Tahun berikutnya juga jangan sampai persoalan ini kembali terabaikan. Dari dulu sampai sekarang, sawah di sini hampir tidak pernah lepas dari ancaman gagal panen karena kekurangan air," tuturnya.
Krisis air yang terus berulang membuat para petani khawatir terhadap keberlangsungan produksi padi di wilayah tersebut. Sebab, sebagian besar masyarakat setempat menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian.
Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Luwu, Dinas Pertanian, Balai Wilayah Sungai, serta Kementerian Pertanian dapat memberikan perhatian melalui pembangunan sumur bor, pengembangan jaringan irigasi sekitar 4 kilometer, maupun penyediaan infrastruktur air lainnya guna menjamin ketersediaan air bagi sekitar 70 hektare lahan persawahan di Loppe, Lingkungan Lumika.
(*)







